Prof. Dr. Euis Amalia Online

Pendidikan Tinggi dan Beban Peradaban: Menakar Moralitas di Era Disrupsi Global

Oleh: Prof. Dr. Euis Amalia, M.Ag.
Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

π‘†π‘’π‘‘π‘–π‘Žπ‘ π‘‘π‘Žπ‘›π‘”π‘”π‘Žπ‘™ 1 𝑀𝑒𝑖, π»π‘Žπ‘Ÿπ‘– π‘ƒπ‘’π‘›π‘‘π‘–π‘‘π‘–π‘˜π‘Žπ‘› π‘π‘Žπ‘ π‘–π‘œπ‘›π‘Žπ‘™ (π»π‘Žπ‘Ÿπ‘‘π‘–π‘˜π‘›π‘Žπ‘ ) β„Žπ‘Žπ‘‘π‘–π‘Ÿ π‘π‘’π‘˜π‘Žπ‘› π‘ π‘’π‘˜π‘Žπ‘‘π‘Žπ‘Ÿ π‘ π‘’π‘π‘Žπ‘”π‘Žπ‘– π‘ π‘’π‘Ÿπ‘’π‘šπ‘œπ‘›π‘–, π‘šπ‘’π‘™π‘Žπ‘–π‘›π‘˜π‘Žπ‘› π‘šπ‘œπ‘šπ‘’π‘› π‘Ÿπ‘’π‘“π‘™π‘’π‘˜π‘ π‘– π‘Žπ‘‘π‘Žπ‘  π‘Žπ‘Ÿπ‘Žβ„Ž π‘˜π‘’π‘šπ‘’π‘‘π‘– π‘π‘Žπ‘›π‘”π‘ π‘Ž. π‘‡π‘Žβ„Žπ‘’π‘› 2026 𝑖𝑛𝑖, π‘˜π‘–π‘‘π‘Ž π‘šπ‘’π‘Ÿπ‘Žπ‘¦π‘Žπ‘˜π‘Žπ‘›π‘›π‘¦π‘Ž 𝑑𝑖 π‘‘π‘’π‘›π‘”π‘Žβ„Ž π‘π‘Žπ‘‘π‘Žπ‘– π‘¦π‘Žπ‘›π‘” π‘˜π‘œπ‘šπ‘π‘™π‘’π‘˜π‘ : π‘˜π‘’π‘‘π‘’π‘”π‘Žπ‘›π‘”π‘Žπ‘› π‘”π‘’π‘œπ‘π‘œπ‘™π‘–π‘‘π‘–π‘˜, π‘Žπ‘›π‘π‘Žπ‘šπ‘Žπ‘› π‘˜π‘Ÿπ‘–π‘ π‘–π‘  π‘’π‘˜π‘œπ‘™π‘œπ‘”π‘–, β„Žπ‘–π‘›π‘”π‘”π‘Ž π‘™π‘’π‘‘π‘Žπ‘˜π‘Žπ‘› π‘˜π‘’π‘π‘’π‘Ÿπ‘‘π‘Žπ‘ π‘Žπ‘› π‘π‘’π‘Žπ‘‘π‘Žπ‘› (π΄π‘Ÿπ‘‘π‘–π‘“π‘–π‘π‘–π‘Žπ‘™ 𝐼𝑛𝑑𝑒𝑙𝑙𝑖𝑔𝑒𝑛𝑐𝑒) π‘¦π‘Žπ‘›π‘” π‘šπ‘’π‘Ÿπ‘œπ‘šπ‘π‘Žπ‘˜ π‘‘π‘Žπ‘‘π‘Žπ‘›π‘Žπ‘› β„Žπ‘–π‘‘π‘’π‘. 𝐷𝑖 π‘‘π‘–π‘‘π‘–π‘˜ 𝑖𝑛𝑖, π‘˜π‘–π‘‘π‘Ž π‘π‘’π‘Ÿπ‘™π‘’ π‘π‘’π‘Ÿπ‘‘π‘Žπ‘›π‘¦π‘Ž: π‘π‘’π‘Ÿπ‘Žπ‘‘π‘Žπ‘π‘Žπ‘› π‘ π‘’π‘π‘’π‘Ÿπ‘‘π‘– π‘Žπ‘π‘Ž π‘¦π‘Žπ‘›π‘” π‘ π‘’π‘π‘’π‘›π‘Žπ‘Ÿπ‘›π‘¦π‘Ž π‘‘π‘’π‘›π‘”π‘Žβ„Ž π‘˜π‘–π‘‘π‘Ž 𝑠𝑒𝑠𝑒𝑛?

 

Antara Lonjakan Kuantitas dan Ancaman Krisis Moral

Secara statistik, Indonesia mencatat prestasi besar. Sebagai sistem pendidikan terbesar keempat di dunia, kita menaungi lebih dari 9 juta mahasiswa di lebih dari 3.000 perguruan tinggi. Angka partisipasi kasar (GER) pun melonjak ke level 44,88% pada 2023. Namun, di balik kemegahan angka tersebut, terselip anomali yang pahit.

Indeks Persepsi Korupsi 2024 yang menempatkan Indonesia di peringkat 115 dari 180 negara menjadi alarm keras. Pendidikan tinggi yang ekspansif ternyata belum mampu memangkas budaya korupsi secara signifikan. Kita menghadapi apa yang disebut sebagai moral gapβ€”sebuah jurang lebar antara kecerdasan intelektual dan kematangan etis. Kasus plagiarisme dan ketidakjujuran akademik justru meningkat di era yang paling melek teknologi ini.

Kampus sering kali terjebak menjadi lembaga transmisi pengetahuan semata, melupakan fungsinya sebagai agen pembentukan karakter sebagaimana yang diingatkan Thomas Lickona.

Kecerdasan Buatan dan Risiko “Lumpuhnya” Nalar

Memasuki tahun 2026, tantangan semakin nyata dengan hadirnya AI generatif. UNESCO menyebut fenomena ini sebagai civilizational rupture atau retakan peradaban. AI bukan lagi sekadar alat, melainkan entitas yang mengubah hakikat pembelajaran.

Risiko terbesarnya adalah cognitive atrophyβ€”melemahnya kemampuan berpikir kritis dan daya nalar mendalam karena ketergantungan akut pada mesin. Jika perguruan tinggi gagal merespons, kita berisiko melahirkan generasi yang mahir berinteraksi dengan algoritma, namun buta terhadap empati dan nilai-nilai kemanusiaan.

Mengembalikan Khitah Perguruan Tinggi

Perguruan tinggi harus kembali ke misi dasarnya. Martha Nussbaum mengingatkan bahwa pendidikan yang hanya berorientasi pada pertumbuhan ekonomi dan skill teknis hanya akan mencetak “mesin yang berpengetahuan,” namun miskin imajinasi demokratis.

Dalam tradisi intelektual Islam, ilmu adalah wasilah menuju al-tamaddunβ€”peradaban yang berkeadaban. Sejalan dengan itu, konsep integrasi-interkoneksi menuntut kita untuk tidak memisahkan nalar dari iman, atau sains dari etika. Pendidikan sejati adalah proses penyadaran kritis (conscientization), di mana mahasiswa belajar tidak hanya how to earn (cara mencari nafkah), tetapi how to be (cara menjadi manusia yang bermartabat).

Tiga Agenda Menuju Indonesia Emas 2045

Untuk memastikan Indonesia 2045 tidak hanya sekadar emas secara ekonomi, tetapi juga mulia secara karakter, ada tiga langkah transformatif yang mendesak:

  1. Reorientasi Kurikulum: Menggeser fokus dari sekadar transfer ilmu menuju pembentukan kebijaksanaan (wisdom). Etika harus menjadi bingkai utama dalam setiap disiplin ilmu, baik teknik maupun ekonomi.

  2. Tata Kelola AI yang Humanis: Teknologi harus diposisikan sebagai pelayan kemanusiaan. Penggunaan AI di kampus memerlukan regulasi yang menjamin transparansi dan tetap menjaga kedaulatan nalar manusia.

  3. Kampus sebagai Ruang Dialog: Merevitalisasi universitas sebagai tempat bertemunya sains dan agama, di mana akal berpadu selaras dengan nurani.

Penutup

Disrupsi global yang kita hadapi hari ini bukanlah sekadar tantangan teknis, melainkan krisis peradaban. Perguruan tinggi tidak boleh hanya menjadi pabrik tenaga kerja. Ia harus menjadi “ibu peradaban” yang melahirkan manusia-manusia berilmu dan berakhlak.

Pada akhirnya, kejayaan sebuah bangsa tidak diukur dari peringkat universitasnya di QS World Ranking atau angka pertumbuhan ekonomi semata, melainkan dari mutu manusia yang dilahirkannyaβ€”manusia yang memiliki daya untuk membangun dunia yang lebih adil dan bermartabat, persis seperti yang dicita-citakan oleh Ki Hajar Dewantara seabad yang lalu.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *