Prof. Dr. Euis Amalia Online

Restorasi Peradaban dari Mimbar Menteng: Menakar Urgensi Pendidikan Karakter di Era Disrupsi

JAKARTA – Di tengah kepungan gedung pencakar langit Jakarta yang serba modern, sebuah pesan mendalam bergema dari mimbar Masjid Agung Sunda Kelapa pada Minggu, 3 Mei 2026. Prof. DR. Hj. Euis Amalia, M.Ag. mengingatkan kita semua bahwa kejayaan sebuah bangsa bukan sekadar soal kemegahan infrastruktur.

“Kejayaan sebuah bangsa tidaklah bertumpu pada kemegahan fisik atau teknologi semata, melainkan pada kedalaman karakter dan kemuliaan peradaban manusianya,” tegas Prof. Euis di hadapan jamaah.

Refleksi Hardiknas: Pendidikan adalah Napas Peradaban

Bertepatan dengan momentum Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas), Prof Euis mengajak umat merenung sejenak. Pendidikan sejati bukan sekadar mengejar gelar akademik, melainkan fondasi untuk membangun peradaban yang beradab. Merujuk pada pemikiran sosiolog Ibnu Khaldun, peradaban yang kuat lahir dari masyarakat yang memiliki ikatan sosial (Ashabiyyah) dan karakter yang kokoh.

Iqra: Gerbang Ilmu dan Iman

Prof Euis mengajak umat kembali ke perintah pertama Al-Qur’an, yaitu Iqra (Bacalah). Membaca bukan hanya mengeja, tapi proses belajar mengenal Sang Pencipta:

QS. Al-‘Alaq (96): 1-5

“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan (1). Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah (2). Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Mahamulia (3). Yang mengajar (manusia) dengan perantara kalam (pena) (4). Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya (5).”

Tujuannya adalah membentuk Khairu Ummah (Umat Terbaik) yang aktif menebar kebaikan dan mencegah kerusakan, sebagaimana diingatkan dalam QS. Ali Imran (3): 110.

Meneladani Luqman: Membentengi Generasi di Era Digital

Menghadapi tantangan disrupsi, Prof. Euis menekankan pentingnya orang tua meneladani cara Luqman Al-Hakim mendidik anaknya sebagai “jangkar” moral:

  • Pondasi Tauhid: Menanamkan iman yang lurus sebagai filter utama kehidupan agar tidak terperosok dalam kezaliman (QS. Luqman: 13).

  • Kesadaran Pengawasan Tuhan (Muraqabah): Mengajarkan bahwa tidak ada satu pun perbuatan yang luput dari pantauan Allah, sangat krusial bagi anak saat berselancar di dunia maya.

  • Adab dan Ibadah: Membiasakan syukur kepada orang tua serta mendirikan shalat sebagai tiang karakter.

  • Karakter Personal: Melarang kesombongan dan melatih kerendahan hati dalam berinteraksi sosial.

Tantangan Nyata: Ilmu adalah Kewajiban

Data menunjukkan tantangan besar: dari 221 juta pengguna internet di Indonesia, 58% waktu habis untuk hiburan, sementara pendidikan hanya menyumbang 10%. Prof. Euis mengingatkan bahwa menuntut ilmu adalah mandat suci:

  • Kewajiban Mutlak: “Menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap Muslim.” (HR. Ibnu Majah).

  • Jalan Kemudahan: “Barangsiapa menempuh jalan mencari ilmu, Allah mudahkan jalannya menuju surga.” (HR. Muslim).

  • Janji Tuhan: Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman dan berilmu (QS. Al-Mujadilah: 11).

Visi Generasi “Hafiz-Inovator”

Tujuan akhir dari pola pendidikan ini adalah melahirkan generasi “Hafiz-Inovator”.

“Visi kita adalah melahirkan generasi yang menjaga hafalan Al-Qur’annya, namun juga canggih menguasai teknologi seperti kecerdasan buatan (AI) untuk kemaslahatan umat,” tambah beliau.

Sebagai solusi, Prof. Euis  menawarkan kerjasama “Segitiga Emas”:

KELUARGA sebagai madrasah pertama (QS. At-Tahrim: 6), SEKOLAH sebagai pusat ilmu, dan MASJID sebagai pusat karakter.

Pendidikan agama bukanlah pelarian dari kemajuan, melainkan kompas agar teknologi tetap digunakan untuk kemanusiaan yang bermartabat.

Leave a Reply