Kehadiran Prof. Euis dalam kongres yang diikuti sekitar 500 peserta lintas ormas Islam itu ia bagikan melalui akun Instagram pribadinya, @euisamalia_2019, lengkap dengan sejumlah foto bersama para tokoh dan pengurus di sela suasana pembukaan kongres.
Dalam keterangannya, Prof. Euis menegaskan bahwa umat dan bangsa merupakan dua entitas yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Menurutnya, penguatan gerakan umat Islam pada hakikatnya juga merupakan upaya memperkuat ketahanan bangsa secara keseluruhan.
Umat dan bangsa sesuatu yang tidak dapat dipisahkan. Gerakan umat Islam adalah juga upaya untuk memperkuat ketahanan bangsa. Prof. Dr. Euis Amalia, M.Ag — Instagram @euisamalia_2019
Dalam salah satu slide unggahannya, Prof. Euis menggarisbawahi bahwa Indonesia sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia memiliki potensi ekonomi syariah yang sangat besar, namun selama ini belum dikelola secara terarah dan optimal. Potensi tersebut, menurutnya, mencakup sektor keuangan syariah, industri halal, wakaf, zakat, hingga ekosistem bisnis umat yang jika dikonsolidasikan dapat menjadi kekuatan ekonomi nasional yang signifikan.
Menangkap urgensi tersebut, Ketua Umum MUI KH Anwar Iskandar di hadapan para tokoh nasional dalam pembukaan KUII VIII secara resmi mendorong lahirnya Danantara Syariah Indonesia. Gagasan ini diharapkan menjadi jangkar baru dalam mengelola investasi strategis negara yang sejalan dengan nilai-nilai keislaman, guna mewujudkan kemandirian dan pemerataan ekonomi umat.
Gagasan tersebut kemudian diperdalam oleh Wakil Ketua Umum MUI KH Muhammad Cholil Nafis, yang mengusulkan agar pemerintah membentuk Danantara Syariah sebagai sub-holding atau holding khusus di bawah Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) untuk mengonsolidasikan lembaga keuangan syariah, mulai dari perbankan syariah hingga dana sosial umat, yang selama ini dinilai masih berjalan sendiri-sendiri.
Bagi Prof. Euis, yang dikenal sebagai akademisi ekonomi syariah, konsolidasi semacam ini menjadi langkah strategis untuk mengubah potensi besar umat Islam Indonesia menjadi kekuatan ekonomi nyata yang terkoordinasi dan berdampak luas bagi kesejahteraan umat.
Dalam unggahannya, Prof. Euis juga menekankan pentingnya perubahan orientasi Indonesia dari sekadar menjadi pasar produk halal terbesar dunia, menuju posisi sebagai produsen sekaligus pusat industri halal dunia. Ia menyoroti peringkat Indonesia yang saat ini masih berada di posisi keempat berdasarkan indikator State of Global Islamic Economy (SGIE), dan mendorong agar Indonesia mampu naik kelas ke peringkat pertama.
Potensi umat Islam Indonesia, Pusat Halal Dunia, market yang besar, diharapkan Indonesia tidak hanya sekadar pasar yang besar tetapi harus mampu menjadi Pusat Halal Dunia, di mana kita menjadi produsen dan naik kelas dari ranking 4 menjadi nomor 1 berdasarkan indikator SGIE. Prof. Dr. Euis Amalia, M.Ag — Instagram @euisamalia_2019
Pandangan tersebut sejalan dengan kajian ekonomi syariah yang selama ini digeluti Prof. Euis sebagai Guru Besar Ekonomi Syariah UIN Jakarta, yang secara konsisten mendorong hilirisasi industri halal nasional agar Indonesia tidak hanya menjadi konsumen, tetapi juga produsen utama produk halal dunia.
KUII VIII merupakan forum musyawarah lima tahunan umat Islam yang digagas MUI sebagai ajang konsolidasi gagasan dan strategi umat dalam menjawab berbagai tantangan kebangsaan, mulai dari ekonomi syariah, penegakan hukum, hingga isu-isu sosial keagamaan kontemporer. Pembukaan kongres turut dihadiri sejumlah tokoh nasional, di antaranya Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI Jusuf Kalla, Ketua MPR RI Ahmad Muzani, jajaran menteri Kabinet Merah Putih, pimpinan lembaga negara, serta unsur TNI dan Polri.
Kehadiran para akademisi seperti Prof. Euis Amalia dalam forum ini mencerminkan sinergi antara kalangan intelektual kampus dengan lembaga keagamaan dalam merumuskan arah kebijakan ekonomi syariah dan penguatan umat menuju Indonesia Emas 2045.
Klik salah satu foto untuk melihat ukuran penuh.
Sumber: Akun Instagram resmi @euisamalia_2019 (24 Juli 2026); pemberitaan pendamping KUII VIII dari MUI, Antara, Kompas, NU Online, dan Tribunnews (24–26 Juli 2026).
Notifications