Prof. Dr. Euis Amalia Online

Zakat: Bukan Sekadar Derma, Tapi “Bensin” Utama Ekonomi Umat

Zakat is far more than a religious ritual; it is a strategic economic instrument that serves as a powerful engine for wealth redistribution to bridge the social divide. With a potential reaching Rp327 trillion, optimizing zakat is the key to elevating human capital and breaking the cycle of systemic poverty, ensuring that national development relies not only on growth figures but on equitable justice for all as we head toward the Indonesia Gold 2045 vision.
Zakat & Keadilan Ekonomi: Visi Prof. Euis Amalia Menuju Indonesia Emas 2045

Pernahkah kita membayangkan zakat bukan sebagai “potongan harta”, melainkan sebagai bensin yang menggerakkan mesin ekonomi sebuah bangsa? Dalam salah satu pesan mendalam di bulan Ramadan, Prof. Euis Amalia mengingatkan kita bahwa takwa yang sejati tidak hanya berhenti di atas sajadah, tapi juga mengalir ke kantong-kantong mereka yang membutuhkan.

Mengapa Salat Selalu “Gandeng” dengan Zakat?

Dalam Al-Qur’an, perintah salat hampir selalu diikuti dengan perintah zakat. Ini bukan tanpa alasan. Salat adalah cara kita memperbaiki hubungan dengan Tuhan, sementara zakat adalah cara kita memperbaiki hubungan dengan sesama manusia.

Prof. Euis menekankan bahwa zakat adalah alat “pembersih” ganda. Ia membersihkan jiwa kita dari sifat kikir dan sombong, sekaligus membersihkan harta kita dari hak orang lain yang mungkin tanpa sadar terpendam di sana. Tanpa zakat, ibadah kita seperti burung yang hanya punya satu sayap—sulit untuk terbang tinggi menuju ridha-Nya.

Zakat: Solusi Cerdas Atasi Kesenjangan

Kita sering mendengar istilah “yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin.” Di sinilah zakat hadir sebagai solusinya. Secara ekonomi, zakat bekerja sebagai alat redistribusi. Bayangkan sebuah aliran air; jika air hanya berhenti di satu tempat, ia akan menjadi sarang penyakit. Tapi jika dialirkan ke bawah, ia akan menyuburkan tanah yang kering.

Saat zakat disalurkan dengan tepat, saudara-saudara kita yang kurang mampu bisa mulai mengonsumsi makanan bergizi, menyekolahkan anak, hingga membuka usaha kecil. Ketika mereka punya penghasilan, mereka akan belanja. Saat mereka belanja, roda ekonomi pasar berputar. Inilah yang disebut dengan efek domino kebaikan.

Tantangan Rp327 Triliun: Raksasa yang Belum Bangun

Ada fakta menarik yang diungkap Prof. Euis: potensi zakat di Indonesia itu luar biasa besar, mencapai Rp327 Triliun! Namun sayangnya, yang baru terkumpul dan terkelola secara resmi baru sekitar Rp50-an Triliun.

Artinya, masih banyak “tenaga” yang belum kita gunakan secara maksimal untuk membangun bangsa. Bayangkan jika dana sebesar itu dialokasikan untuk memutus rantai kemiskinan, memerangi stunting, dan memberikan beasiswa pendidikan. Kita tidak hanya membantu orang per orang, tapi kita sedang membangun fondasi agar Indonesia benar-benar siap menjadi negara maju di tahun 2045 nanti.

Keadilan adalah Kunci

Mengutip pemikiran tokoh besar Ibnu Khaldun, Prof. Euis mengingatkan bahwa kemajuan suatu negara sangat bergantung pada nilai moral dan keadilan sosialnya. Pembangunan bukan cuma soal gedung-gedung tinggi di Jakarta, tapi soal bagaimana warga di pelosok desa juga bisa merasakan kesejahteraan yang sama.

Zakat adalah cara Islam mengajarkan keadilan itu. Ia memastikan tidak ada harta yang menumpuk di satu kelompok saja.

Investasi Jangka Panjang

Mari jadikan Ramadan tahun ini sebagai titik balik. Jangan melihat zakat sebagai kewajiban yang memberatkan, tapi lihatlah ia sebagai investasi jangka panjang. Investasi yang keuntungannya bukan hanya soal angka di rekening, tapi soal ketenangan jiwa dan masa depan umat yang lebih mandiri.

Karena pada akhirnya, harta yang benar-benar milik kita adalah harta yang telah kita bagikan. (admin: sty)

Leave a Reply

0

Subtotal