Bagi sebagian orang, istilah "ekonomi syariah" mungkin terdengar kaku, lekat dengan urusan perbankan, atau sebatas deretan teori di ruang kuliah. Namun, di tangan seorang akademisi yang juga Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Prof. Dr. Euis Amalia, M.Ag., ekonomi syariah justru diterjemahkan dengan cara yang jauh lebih segar, membumi, dan dekat dengan keseharian kita.
Dalam perbincangannya yang inspiratif, Prof. Euis membagikan pandangannya bahwa ekonomi syariah hari ini telah menjelma menjadi wacana dan gerakan global. Menariknya, gelombang ini tidak lagi eksklusif milik umat Islam semata. Negara-negara non-muslim pun kini melirik dan menerapkan standar halal karena mereka menyadari satu prinsip mendasar: halal is good—halal itu bersih, menyehatkan, berkualitas, dan membawa kebaikan bagi semua.
Ironis sekaligus menyadarkan. Ketika Indonesia berstatus sebagai negara dengan populasi muslim terbesar di dunia, negara-negara tetangga justru bergerak lebih cepat. Thailand, misalnya, dengan cerdik memposisikan diri sebagai "the kitchen halal in the world"—dapur makanannya dunia. Mereka mengekspor produk makanan halal ke berbagai penjuru dunia, termasuk kawasan Timur Tengah. Begitu pula dengan Jepang, Korea Selatan, hingga Tiongkok yang mulai berlomba-lomba melabeli produk mereka dengan standar halal demi menjemput pasar global.
Lantas, di mana posisi Indonesia? Potensi kita sebenarnya jauh lebih besar. Dengan kekayaan alam yang melimpah dari Sabang sampai Merauke, garis pantai terpanjang, serta sumber daya agraria dan maritim yang luar biasa, Indonesia seharusnya tidak boleh hanya puas menjadi pasar konsumen halal dunia. Kita harus melangkah lebih jauh: menjadi produsen halal utama di kancah internasional.
Prof. Euis menekankan bahwa ekonomi syariah bukanlah sekadar sistem keuangan tanpa bunga. Lebih dari itu, ekonomi syariah adalah sebuah sistem yang komprehensif dan holistik. Konsep halal hari ini tidak lagi berhenti pada selembar sertifikat di kemasan produk, melainkan sebuah proses menyeluruh dari hulu ke hilir.
Mulai dari pemilihan bahan baku yang bersih, cara penyembelihan yang sesuai syariat (julehale), proses pengolahan, pengemasan, penyimpanan, hingga cara penyajiannya, semua harus berada di dalam koridor yang suci dan higienis. Cakupan industri halal sangat luas; bukan cuma soal makanan dan minuman, tetapi juga merambah ke sektor pariwisata (halal tourism), kosmetik, farmasi, hingga fesyen. Indonesia dengan kekayaan wastra nusantaranya—seperti batik, tenun, dan songket—memiliki peluang emas untuk menjadi kiblat fesyen halal dunia.
Ada satu sudut pandang yang sangat menyentuh dan organik ketika Prof. Euis berbicara tentang ekonomi mikro: peran sentral seorang perempuan. Melalui keterlibatannya di berbagai lembaga pembiayaan mikro dan fintech syariah, beliau melihat bagaimana kaum perempuan di sektor informal bekerja keras sambil mengurus keluarga—mulai dari memasak, mengasuh anak, hingga berjualan kecil-kecilan. Di sinilah ekonomi syariah hadir untuk merangkul dan menaikkelaskan mereka, menyelamatkan para pelaku usaha kecil dari jeratan rentenir dan pinjaman online ilegal.
"Memberdayakan satu orang perempuan adalah memberdayakan keluarga, dan memberdayakan keluarga adalah memberdayakan bangsa." — Prof. Dr. Euis Amalia, M.Ag.
Sebab, di tangan seorang ibu yang mandiri secara ekonomi, masa depan pendidikan anak-anak terjaga, dan dari sanalah peradaban serta ketahanan sebuah bangsa mulai dibangun.
Untuk mewujudkan Indonesia sebagai pusat ekonomi dan industri halal dunia, tentu jalannya tidak instan. Dibutuhkan sebuah ekosistem yang terintegrasi penuh. Perguruan tinggi harus 'kawin' dengan dunia industri (link and match) melalui riset dan inovasi yang menghasilkan paten nyata. Pemerintah pun dituntut memiliki kemauan politik (political will) yang kuat untuk menyelaraskan regulasi tanpa terjebak dalam ego sektoral antar lembaga.
Di era disrupsi dan kecerdasan buatan (artificial intelligence) saat ini, dunia pendidikan juga harus beradaptasi. Teknologi bukanlah musuh, melainkan kawan seperjalanan untuk mempercepat lompatan kemajuan. Pada akhirnya, ekonomi syariah dan gaya hidup halal (halal lifestyle) bukanlah sekadar tren musiman yang kaku, melainkan pilihan gaya hidup modern yang bersih, sehat, dan menyejahterakan.
Notifications