JAKARTA – Indonesia mematok target ambisius untuk menjadi pemimpin ekonomi syariah nomor satu di dunia dalam visi Indonesia Emas 2045. Dengan volume ekonomi Islam global yang menembus angka fantastis Rp100.000 triliun, penguatan ekosistem syariah nasional kini menjadi mesin pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.
Dalam diskusi Top Economy Special Islamic Economic di Metro TV, para pakar dari Ikatan Ahli Ekonomi Islam Indonesia (IAEI) bersama perwakilan Bank Indonesia dan OJK membedah posisi Indonesia yang kini kokoh di peringkat ketiga dunia dalam laporan The State of Global Islamic Economy (SGIE) 2025.
Dominasi Sektor Riil dan Tantangan Keuangan
Indonesia mencatatkan prestasi gemilang di beberapa sektor kunci:
Peringkat 1 Dunia pada sektor busana muslim (modest fashion).
Peringkat 2 Dunia pada sektor pariwisata ramah muslim.
Peringkat 2 Dunia pada sektor kosmetik dan farmasi halal.
Namun, akselerasi di sektor keuangan masih menjadi catatan penting. Deden Firman Hendarsyah (Ketua Bidang Pengembangan Industri Keuangan Islam IAEI dan Deputi Komisioner OJK) mengungkapkan bahwa per Desember 2025 hingga awal 2026, aset keuangan syariah nasional telah tumbuh 8,5% dan mencapai angka di atas Rp3.000 triliun.
“Kita harus menjaga kecepatan pertumbuhan ini melalui pengembangan ekosistem yang terintegrasi antara sektor riil dan keuangan, agar Indonesia tidak hanya menjadi konsumen, tetapi menjadi pemain utama global,” tegas Deden.
Inovasi Moneter dan Digitalisasi Pesantren
Dr. Dadang Muljawan (Ketua Bidang Riset, Pengembangan Keilmuan, dan Publikasi IAEI sekaligus Direktur Eksekutif DEKS Bank Indonesia) memaparkan bahwa BI telah mempelopori operasi moneter yang sepenuhnya sharia-compliant dan terkoneksi dengan instrumen fiskal seperti Green Sukuk.
BI juga meluncurkan program strategis ‘Gerbang Santri’ untuk membawa teknologi digital ke lebih dari 30.000 pesantren di seluruh Indonesia, serta program ‘Jawara Ekspor’ untuk mendorong UMKM menembus pasar internasional. “Inovasi adalah kunci. Kita harus cerdas memanfaatkan generation shift menuju milenial dan Gen-Z yang memiliki preferensi personal dan digital,” ujar Dadang.
Investasi SDM dan Literasi Inklusif
Dari sisi akademisi, Prof. Dr. Euis Amalia (Ketua Bidang Pengembangan SDM IAEI dan Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta) menyoroti modal besar Indonesia yang memiliki lebih dari 950 program studi ekonomi syariah. Ia menekankan pentingnya reformasi kurikulum yang link and match dengan industri serta standarisasi internasional untuk auditor hingga juru sembelih halal.
Sejalan dengan itu, Prof. Dr. Murniati Mukhlisin (Ketua Bidang Komunikasi Strategis IAEI dan Universitas Tazkia) menekankan pentingnya ekosistem hexahelix yang melibatkan media dan komunitas untuk memperkuat literasi. Saat ini, tingkat literasi ekonomi syariah nasional berada di angka 43%, namun inklusinya baru mencapai 13%, yang menunjukkan adanya ruang besar untuk ekspansi akses layanan.
Kepemimpinan Melalui Kolaborasi
Sebagai penutup, diskusi ini menyimpulkan bahwa kepemimpinan global Indonesia hanya bisa dicapai melalui konektivitas dan sinergi kebijakan yang holistik. Dengan menjaga jati diri bangsa yang menjunjung nilai gotong royong, ekonomi syariah Indonesia optimistis dapat melampaui para pesaing global dan menjadi pusat gravitasi ekonomi Islam dunia.
Sumber: Top Economy Metro TV (Maret 2026)