Prof. Dr. Euis Amalia Online

Hari Kartini 2026: 41 Juta Perempuan UMKM Jadi Penggerak Ekonomi Nasional

Peringatan Hari Kartini bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan ruang refleksi untuk melihat kembali peran strategis perempuan dalam pembangunan ekonomi Indonesia. Lebih dari satu abad setelah Raden Ajeng Kartini menyuarakan gagasan tentang kebebasan dan kesetaraan, semangat itu kini hidup dalam jutaan perempuan pelaku usaha di seluruh penjuru negeri.

Data Kementerian Koperasi dan UKM tahun 2024 menunjukkan bahwa lebih dari 64 persen dari total 64,2 juta pelaku UMKM di Indonesia adalah perempuan—sekitar 41 juta unit usaha. Mereka hadir di berbagai lini, dari usaha rumahan sederhana hingga produksi berbasis komunitas yang semakin berkembang.

Peran mereka bukan pelengkap. UMKM menyumbang sekitar 61 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional. Artinya, perempuan telah menjadi aktor utama dalam menggerakkan roda ekonomi, bukan sekadar penerima manfaat pembangunan.

Memasuki periode 2025–2026, ekonomi global menghadapi tekanan yang tidak ringan: ketegangan geopolitik, fluktuasi suku bunga, hingga disrupsi digital. Namun di tengah dinamika tersebut, UMKM yang dikelola perempuan justru menunjukkan daya tahan yang kuat. Fleksibilitas usaha serta kekuatan jaringan sosial berbasis komunitas menjadi kunci utama ketangguhan mereka.

Hal ini juga tercermin dalam Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja perempuan yang pada September 2025 mencapai 56,70 persen. Bahkan, sekitar 14,37 persen perempuan kini menjadi tulang punggung ekonomi keluarga—sebuah peran yang semakin signifikan dalam struktur sosial-ekonomi Indonesia.

Kekuatan yang Berakar dari Modal Sosial

Keberhasilan perempuan dalam mengelola UMKM tidak hanya bergantung pada modal finansial, tetapi juga pada kekuatan modal sosial. Jaringan seperti arisan, pengajian, hingga komunitas digital menjadi sarana efektif untuk distribusi produk, promosi, hingga berbagi pengetahuan usaha.

Data penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) hingga Juli 2025 mencatat bahwa 51,2 persen dari total 2,64 juta debitur adalah perempuan. Menariknya, tingkat kepatuhan pembayaran pinjaman perempuan juga tercatat lebih tinggi, menunjukkan tingkat tanggung jawab finansial yang kuat.

Sebagaimana disampaikan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), perempuan—terutama ibu—memiliki peran penting dalam memperkuat ekonomi bangsa, dimulai dari keluarga sebagai unit terkecil.

Tantangan yang Masih Membayangi

Meski kontribusinya besar, perempuan pelaku UMKM masih menghadapi berbagai hambatan, terutama dalam akses keuangan. Data OJK tahun 2024 menunjukkan hanya sekitar 18 persen UMKM perempuan yang memiliki akses ke layanan keuangan formal.

Selain itu, Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2025 mencatat tingkat literasi keuangan perempuan sebesar 65,58 persen—masih berada di bawah laki-laki. Inklusi keuangan syariah bahkan baru mencapai 13,41 persen.

Hambatan ini tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga struktural—mulai dari keterbatasan kepemilikan aset hingga sistem pembiayaan yang belum sepenuhnya berpihak pada kebutuhan perempuan.

Kartini Masa Kini Membutuhkan Dukungan Nyata

Semangat Kartini di era modern tidak cukup diwujudkan melalui simbol dan perayaan. Perempuan pelaku usaha membutuhkan langkah konkret: akses pembiayaan yang lebih inklusif tanpa agunan, peningkatan literasi keuangan berbasis komunitas, serta jaminan perlindungan sosial yang memadai.

Target dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025–2029 untuk meningkatkan rasio kewirausahaan menjadi 3,6 persen dan mendorong 300.000 UMKM naik kelas tidak akan tercapai tanpa pendekatan yang sensitif terhadap gender.

Tanpa keberpihakan yang jelas, target tersebut berisiko menjadi sekadar angka tanpa dampak nyata.

Perjuangan Kartini di Era Digital

Jika Kartini hidup di masa kini, medan perjuangannya mungkin berpindah ke ruang digital—melalui platform e-commerce, media sosial, hingga layanan keuangan berbasis teknologi. Namun, tantangan tetap hadir: keterbatasan akses modal, belum optimalnya pengakuan usaha informal, serta beban ganda antara peran domestik dan ekonomi.

Perjuangan Kartini belum selesai. Ia hanya bertransformasi mengikuti zaman.

Hari Kartini: Saatnya Komitmen Bersama

Hari Kartini seharusnya menjadi momentum untuk memperkuat komitmen bersama bahwa perempuan bukan hanya pelaku ekonomi, tetapi juga penentu arah pembangunan bangsa.

Dengan jumlah yang mencapai puluhan juta, perempuan pelaku UMKM adalah fondasi ekonomi nasional. Sudah saatnya mereka didukung melalui kebijakan yang inklusif, berkelanjutan, dan berpihak—agar semangat Kartini benar-benar hidup dalam pembangunan Indonesia hari ini dan masa depan.

Leave a Reply

0

Subtotal