Jakarta, 2 Maret 2026 – Konsep keadilan distributif dalam ekonomi Islam dinilai dapat menjadi fondasi penting untuk memperkuat sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Indonesia. Hal ini disampaikan Prof. Dr. Euis Amalia, M.Ag, Guru Besar Ekonomi Islam UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, dalam ceramah pada acara Silaturahmi dan Buka Puasa bersama keluarga besar Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI), Senin (2/3/2026).

Ceramah tersebut mengangkat tema “Keadilan Distributif dalam Ekonomi Islam untuk Penguatan UMKM Indonesia.”
Menurut Prof. Euis, prinsip keadilan dalam ekonomi Islam menekankan bahwa kekayaan harus beredar secara merata dan tidak hanya terkonsentrasi pada kelompok tertentu.
“Ekonomi Islam menegaskan bahwa kekayaan tidak boleh hanya beredar di kalangan orang-orang kaya, tetapi harus memberikan manfaat bagi seluruh masyarakat,” ujarnya.
Materi ceramah KAHMI-2026_26030…
UMKM Tulang Punggung Ekonomi Nasional
Dalam paparannya, Prof. Euis menyebut UMKM sebagai sektor yang memiliki kontribusi sangat besar terhadap perekonomian Indonesia.

Saat ini terdapat sekitar 65,5 juta unit UMKM yang mencakup 99 persen dari total unit usaha nasional. Selain itu, sektor ini juga menyumbang sekitar 61 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) dan menyerap 97 persen tenaga kerja nasional.
“UMKM bukan hanya pelaku usaha kecil, tetapi juga motor utama distribusi ekonomi rakyat,” katanya.
Namun, di balik kontribusi besar tersebut, UMKM masih menghadapi sejumlah tantangan, seperti keterbatasan akses pembiayaan, kesenjangan digital, rendahnya kapasitas manajerial, serta minimnya sertifikasi usaha.
Peluang Besar Pasar Halal Global
Dalam ceramahnya, Prof. Euis juga menyoroti peluang besar yang dapat dimanfaatkan UMKM Indonesia melalui pasar halal global.
Nilai pasar halal dunia diperkirakan mencapai USD 2,8 triliun pada 2025 dan diproyeksikan meningkat hingga USD 10 triliun pada 2030.

Materi ceramah KAHMI-2026_26030…
Meski demikian, kontribusi ekspor halal Indonesia masih relatif kecil, yakni sekitar 3,8 persen dari total pasar global.
“Padahal Indonesia adalah negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia. Ini adalah peluang yang harus dimanfaatkan oleh UMKM kita,” ujarnya.
Beberapa sektor yang memiliki peluang besar antara lain makanan dan minuman halal, busana muslim, kosmetik halal, hingga wisata halal.
Strategi Penguatan UMKM Berbasis Ekonomi Islam
Untuk memperkuat UMKM, Prof. Euis mengusulkan sejumlah strategi berbasis prinsip keadilan distributif ekonomi Islam.
Beberapa langkah yang dinilai penting antara lain:
-
penguatan ekosistem keuangan syariah
-
percepatan sertifikasi halal bagi UMKM
-
transformasi digital usaha kecil
-
integrasi prinsip halal dan keberlanjutan (ESG)
-
penguatan kemitraan antara pemerintah, akademisi, dunia usaha, komunitas, dan media.
Selain itu, ia juga menekankan pentingnya peningkatan kapasitas sumber daya manusia melalui program inkubasi bisnis, mentoring usaha, dan pendidikan kewirausahaan berbasis nilai-nilai Islam.
Peran Strategis KAHMI
Dalam kesempatan tersebut, Prof Euis juga menyoroti peran strategis KAHMI dalam mendukung pemberdayaan UMKM nasional.
Menurutnya, jaringan alumni HMI yang tersebar di berbagai sektor dapat menjadi kekuatan penting dalam membangun ekosistem ekonomi yang inklusif.
Peran tersebut dapat dilakukan melalui advokasi kebijakan pro-UMKM, penguatan jaringan bisnis, program inkubasi dan mentoring usaha, serta mobilisasi zakat dan wakaf produktif.
“Ketika UMKM kuat, maka ekonomi rakyat juga akan semakin kuat. Inilah wujud nyata keadilan distributif dalam ekonomi Islam,” ujarnya.
Acara silaturahmi dan buka puasa bersama keluarga besar KAHMI tersebut berlangsung dalam suasana hangat dan penuh kebersamaan.
#EkonomiIslam #UMKMIndonesia #KeadilanDistributif #KAHMI #EkonomiUmat