JAKARTA – Di balik ketenangan kubah Masjid Agung Sunda Kelapa, sebuah pesan mendalam tersampaikan. Bukan sekadar ceramah agama biasa, namun sebuah alarm bagi para orang tua di tengah riuhnya era disrupsi. Prof. Dr. Euis Amalia, M.Ag., Guru Besar Ekonomi Syariah UIN Jakarta, hadir membedah fenomena “Strawberry Generation”—generasi yang tampak indah di luar, namun rapuh di dalam.

Paradoks “Ramai tapi Kesepian”
Membuka paparannya, Prof. Euis memotret pemandangan yang tak asing di ruang makan kita: sebuah keluarga duduk bersama, namun masing-masing asyik dengan dunianya di balik layar ponsel. “Rasanya ramai, tapi sebenarnya kesepian,” ujarnya. Inilah paradoks digital yang menurutnya mulai mengikis kedalaman hubungan kemanusiaan.
Mengutip pemikiran Ibnu Khaldun, ia mengingatkan bahwa kejayaan sebuah bangsa tidak dihitung dari tumpukan emas atau kekayaan alamnya, melainkan dari tegaknya karakter manusia yang berilmu dan beriman. “Indonesia itu kaya luar biasa, tapi mengapa kita masih sering terjebak dalam masalah moral dan ekonomi? Jawabannya ada pada kualitas manusianya,” tegas Prof. Euis.
Menavigasi Era “VUCA” dengan Karakter Islami
Kita sedang hidup di zaman VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity)—dunia yang penuh ketidakpastian dan perubahan kilat. Untuk menghadapinya, Prof. Euis menawarkan “Kurikulum Luqman Al-Hakim” sebagai kompas karakter:
-
Akidah sebagai Filter: Di tengah hoaks dan radikalisme, tauhid menjadi penyaring otomatis bagi anak dalam memilih konten yang layak dikonsumsi.
-
Adab di Atas Ilmu: Ia mengingatkan bahwa kecerdasan tanpa moral hanya akan melahirkan kezaliman. “Adab fauqal ‘ilmi”—etika harus berdiri lebih tinggi dari sekadar gelar akademik.
-
Melawan Mentalitas “Instan”: Prof. Euis menyoroti maraknya judi online, pinjol, hingga perilaku menyontek massal melalui bantuan AI (ChatGPT). Baginya, kejayaan tidak bisa dicapai dengan cara instan; ia butuh proses dan integritas.
-
Etika Anti-Flexing: Di era influencer, anak-anak perlu diajarkan kerendahan hati (tawadhu) agar tidak terjebak dalam budaya pamer harta di media sosial yang seringkali semu.
Manusia vs Mesin: Sebuah Pertarungan Spiritual
Salah satu poin paling tajam dalam kuliahnya adalah mengenai persaingan manusia dengan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence). Prof. Euis mengingatkan bahwa mesin belajar melalui algoritma dan listrik, bukan protein dan rasa.
“Robot bisa menggantikan tenaga kerja kita, tapi mesin tidak akan pernah bisa memiliki akhlak. Itulah satu-satunya benteng pertahanan manusia yang tidak bisa dicuri oleh teknologi,” tuturnya.
“Tirakat” dan Keteladanan: Pesan untuk Orang Tua
Bagi Prof. Euis, mendidik anak di era digital tidak cukup hanya dengan menyekolahkan mereka di lembaga terbaik. Ada peran “langit” yang harus dimainkan orang tua.
-
Doa dan Tirakat: Ia mendorong orang tua untuk tidak putus mendoakan anak secara spesifik, terutama di sepertiga malam.
-
Keteladanan Nyata: Sangat sulit melarang anak bermain HP jika orang tuanya sendiri tidak lepas dari gadget. “Anak adalah peniru ulung, bukan pendengar ulung,” tambahnya.
-
Ruang Diskusi: Ubah pola asuh searah menjadi dialog. Jadikan meja makan sebagai ruang konseling organik untuk mendengar kegelisahan anak.
Menanam Benih Insan Kamil
Kuliah Dhuha kali ini ditutup dengan sebuah kesimpulan reflektif. Peradaban mulia tidak dibangun di atas kecanggihan infrastruktur semata, melainkan dari dalam rumah, melalui pembentukan Insan Kamil—manusia yang paripurna secara intelektual dan spiritual.
“Kita tidak bisa menghentikan kemajuan teknologi, tapi kita bisa memperkuat akarnya agar anak-anak kita tidak tumbang diterjang badai digital,” pungkas Prof. Euis, menutup sesi dengan harapan besar bagi masa depan Indonesia.
Catatan Redaksi: Artikel ini dirangkum dari Kuliah Dhuha di Masjid Agung Sunda Kelapa (Mei 2026), yang menyoroti integrasi iman, ilmu, dan teknologi dalam membangun karakter bangsa.