Prof. Dr. Euis Amalia Online

Bukan Sekadar Doa di Atas Piring: Mengapa Halal Menjadi Wajah Baru Dunia Modern

Bagi sebagian besar masyarakat kita, istilah “halal” sering kali berhenti di bibir tepat sebelum suapan pertama. Ia dianggap sebagai urusan teologis yang tuntas setelah doa dilantunkan atau stempel sertifikasi terlihat di kemasan. Namun, jika kita melihat lanskap ekonomi global hari ini, ada pergeseran tektonik yang sedang terjadi: halal telah keluar dari sekat-sekat rumah ibadah dan bertransformasi menjadi identitas kemajuan zaman.

Dalam sebuah dialektika mendalam, Prof. Euis Amalia menekankan satu tesis yang menyentak: “Halal is good.” Halal itu baik. Kalimat sederhana ini sebenarnya tengah meruntuhkan dogma lama bahwa syariah itu tradisional atau eksklusif. Faktanya, halal kini adalah wajah baru dunia modern yang dikejar bukan karena alasan iman semata, melainkan karena kualitas mutu yang melampaui standar pasar konvensional.

Kepercayaan: Mata Uang Baru Dunia Modern

Mengapa konsumen di megapolitan dunia—dari London hingga Seoul—mulai memburu produk berlabel halal? Jawabannya adalah konversi kepercayaan. Di era di mana ketidakpastian menjadi satu-satunya kepastian, halal menawarkan protokol keamanan yang ketat. Ia adalah jaminan bahwa sebuah produk diproses dengan higienitas tinggi, bebas dari bahan berbahaya, dan lahir dari rantai pasok yang transparan.

Inilah yang saya sebut sebagai Modernitas Beradab. Saat masyarakat global mulai menggandrungi gaya hidup etis (ethical living), ekonomi Islam sebenarnya sudah menyediakannya dalam konsep Halalan Thayyiban. Syariah bukan lagi sekadar batasan larangan, melainkan sebuah “sertifikat mutu” bagi kemanusiaan yang mendambakan keadilan dalam setiap transaksi.

Sentilan dari Dapur Tetangga: Krisis Kedaulatan

Namun, di balik narasi modernitas itu, terselip ironi yang menuntut kejujuran kita. Indonesia, sang raksasa muslim, masih sering kali hanya menjadi “piring” bagi produk bangsa lain. Thailand, dengan langkah industri yang taktis, telah memproklamirkan diri sebagai “Dapur Halal Dunia”. Mereka tidak melihat halal sebagai ritual, melainkan sebagai kedaulatan industri dan diplomasi ekonomi.

Kita menghadapi paradoks pahit: sebagai negeri agraris yang subur, kita terkadang masih mengandalkan kedelai impor untuk sepiring tempe. Modernitas halal menuntut industrialisasi, bukan sekadar administrasi. Sudah saatnya kita bergerak dari hilirisasi wacana menuju hilirisasi nyata—di mana riset kampus bertemu dengan nyali industri untuk mengolah kekayaan laut dan bumi kita sendiri menjadi produk yang mendikte pasar dunia.

Ekonomi Ibu: Mesin Tersembunyi Ketahanan Nasional

Modernitas halal juga bicara tentang inklusivitas sosial melalui peran perempuan. Ada sebuah kebenaran sosiologis: perempuan adalah manajer risiko terbaik di unit terkecil bangsa. Ketangguhan seorang ibu dalam mengelola ekonomi informal—berdagang sambil memastikan gizi dan pendidikan anak—adalah mesin penggerak ekonomi mikro yang nyata.

Memberdayakan perempuan melalui akses keuangan syariah bukan sekadar isu kesetaraan gender, melainkan strategi ekonomi makro yang cerdas. Modernitas ekonomi syariah terletak pada kemampuannya menyentuh “ekonomi akar rumput” tanpa mencabut nilai kemanusiaannya. Memberdayakan perempuan berarti menyelamatkan martabat ekonomi sebuah bangsa.

Kepemimpinan Zaman

Indonesia berada di persimpangan jalan menuju visi negara maju 2045. Instrumen kebijakan telah tersedia, bonus demografi melimpah, dan teknologi digital seperti Blockchain siap menjamin keterlacakan produk. Namun, instrumen itu hanyalah benda mati tanpa kepemimpinan yang berani membuang ego sektoral.

Halal bukan lagi sekadar doa di atas piring. Ia adalah instrumen diplomasi, kekuatan industri, dan simbol peradaban yang bermartabat. Jika dunia sudah mengakui bahwa halal adalah standar masa depan, maka Indonesia tidak boleh lagi hanya menjadi penonton. Ini adalah waktu kita untuk memimpin peradaban ini—dengan integritas sebagai kompas dan kapasitas sebagai kemudinya.

Leave a Reply

0

Subtotal