Jakarta, [15/03/2025] – Perbankan syariah di Indonesia terus mengalami perkembangan sebagai bagian dari sistem keuangan yang lebih inklusif dan berkeadilan. Namun, tantangan besar masih menghambat perkembangannya, mulai dari rendahnya tingkat inklusi keuangan, kurangnya regulasi yang mendukung, hingga minimnya keterlibatan dalam proyek investasi skala besar.
Dalam diskusi yang diadakan oleh Ikatan Cendekia Muslim Indonesia (ICMI) bekerja sama dengan Majelis Musyawarah Masjid Istiqlal, Prof. Dr. Didin S. Damanhuri dan Prof. Dr. Euis Amalia, M.Ag mengupas tantangan dan peluang perbankan syariah dalam mendukung hilirisasi industri, digitalisasi keuangan, ketahanan pangan, serta transisi energi.
Diskusi yang dipandu oleh Mega Okaviani ini membahas bagaimana perbankan syariah dapat berkontribusi lebih besar dalam menopang pertumbuhan ekonomi Indonesia dan menarik investasi global.
Perbankan Syariah: Dari Alternatif Menjadi Solusi Utama
Perbankan syariah telah berkembang selama lebih dari 30 tahun di Indonesia, tetapi pangsa pasarnya masih jauh tertinggal dibandingkan dengan bank konvensional.
Prof. Euis Amalia menyoroti rendahnya tingkat inklusi keuangan syariah, di mana hanya 11–12% masyarakat Indonesia yang menggunakan layanan bank syariah, meskipun literasi keuangan syariah sudah mencapai 38%.
“Masih banyak masyarakat yang memahami perbankan syariah, tetapi belum menggunakannya. Tantangannya adalah bagaimana bank syariah bisa lebih dekat dengan masyarakat dan menjadi pilihan utama dalam layanan keuangan.”
Salah satu masalah utama perbankan syariah saat ini adalah dominasi akad murabahah (jual beli) yang mencapai 70% dari total pembiayaan. Padahal, skema mudarabah dan musyarakah (bagi hasil) lebih sesuai dengan prinsip keuangan syariah yang sesungguhnya.
Prof. Didin Damanhuri menekankan bahwa bank syariah harus beralih dari skema money-to-money ke skema project-based financing untuk membiayai sektor produktif.
“Jika kita ingin mencapai pertumbuhan ekonomi 8%, maka perbankan syariah harus lebih banyak menyalurkan pembiayaan ke sektor produktif seperti UMKM, industri manufaktur, dan proyek hijau. Jika hanya berfokus pada pembiayaan konsumtif, maka dampaknya bagi ekonomi tidak akan signifikan.”
Digitalisasi: Kunci Meningkatkan Inklusi Keuangan Syariah
Salah satu solusi untuk meningkatkan inklusi keuangan syariah adalah dengan mempercepat digitalisasi perbankan.
Menurut Prof. Euis, digitalisasi memungkinkan masyarakat di daerah pelosok mengakses layanan keuangan syariah tanpa harus datang ke kantor cabang fisik.
“Saat ini, digital banking berbasis syariah bisa menjadi solusi utama. Dengan branchless banking, masyarakat cukup menggunakan mobile banking dan e-wallet berbasis syariah untuk bertransaksi.”
Lebih lanjut, teknologi blockchain dan smart contract dapat meningkatkan transparansi dalam skema pembiayaan bagi hasil dan mengurangi risiko moral hazard.
Prof. Didin menambahkan bahwa digitalisasi juga akan mendorong lebih banyak masyarakat untuk berpindah dari layanan konvensional ke layanan syariah.
“Dengan digitalisasi, tidak ada lagi alasan bagi masyarakat untuk tidak menggunakan bank syariah. Masyarakat bisa mendapatkan kemudahan layanan setara dengan bank konvensional, bahkan dengan sistem yang lebih transparan dan berbasis nilai-nilai keadilan.”
Hilirisasi Industri: Peran Bank Syariah dalam Ekonomi Nasional
Selain meningkatkan inklusi, bank syariah juga memiliki potensi besar dalam mendukung hilirisasi industri yang sedang digalakkan oleh pemerintah.
Menurut Prof. Didin, bank syariah harus mengambil peran dalam mendanai proyek-proyek yang bernilai tambah tinggi, seperti industri baterai kendaraan listrik dan pengolahan hasil pertanian.
“Indonesia memiliki kekayaan sumber daya alam seperti nikel, sawit, dan batu bara. Namun, selama ini kita lebih banyak mengekspor bahan mentah. Malaysia sudah memiliki 126 produk turunan dari sawit, sedangkan kita masih terpaku pada minyak goreng. Bank syariah harus mendorong hilirisasi industri dengan pembiayaan berbasis proyek.”
Dengan masuk ke dalam sektor hilirisasi, perbankan syariah tidak hanya akan memperkuat ekonomi nasional, tetapi juga menciptakan lebih banyak lapangan kerja dan meningkatkan daya beli masyarakat.
Menarik Investasi Syariah Global
Indonesia memiliki peluang besar untuk menarik investasi syariah dari luar negeri. Namun, hingga saat ini, investor dari Timur Tengah lebih banyak berinvestasi di negara-negara seperti Inggris dan Malaysia.
Prof. Euis mencontohkan bagaimana Inggris, meskipun bukan negara Islam, telah menjadi pusat keuangan syariah dunia.
“Saya pernah meneliti di Inggris dan menemukan bahwa banyak investor Timur Tengah lebih memilih berinvestasi di sana dibandingkan di negara Islam lainnya. Mengapa? Karena regulasi mereka mendukung. Inggris memiliki beberapa bank syariah besar seperti Gatehouse Bank, Al Rayan Bank, dan Bank of London and The Middle East (BLME).”
Jika Indonesia ingin menjadi pusat keuangan syariah global, maka regulasi dan insentif investasi syariah harus diperkuat.
Integrasi Bank Syariah dalam Danantara
Pemerintah telah meluncurkan Danantara, sovereign wealth fund yang mengelola aset hingga Rp 14.000 triliun untuk menarik investasi ke Indonesia.
Namun, hingga saat ini, peran bank syariah dalam pengelolaan Danantara masih sangat minim.
“Saya berharap ada tim khusus di Danantara yang menangani investasi syariah. Ini peluang besar bagi bank syariah untuk masuk dalam pembiayaan proyek-proyek strategis seperti industri hijau, energi terbarukan, dan manufaktur halal.” (Prof. Euis Amalia)
Dengan keterlibatan bank syariah dalam Danantara, Indonesia dapat menarik lebih banyak investor syariah dari luar negeri dan memperkuat posisi keuangan syariah dalam ekosistem ekonomi nasional.
Bank Syariah sebagai Pilar Ekonomi Berkelanjutan
Untuk mewujudkan bank syariah sebagai motor penggerak ekonomi, beberapa langkah strategis yang perlu dilakukan adalah:
✅ Memperkuat political will pemerintah agar bank syariah memiliki dukungan regulasi dan insentif yang kompetitif.
✅ Meningkatkan kerja sama dengan bank syariah global untuk membiayai proyek-proyek besar di sektor teknologi tinggi dan energi terbarukan.
✅ Mendorong digitalisasi perbankan syariah untuk meningkatkan aksesibilitas dan inklusi keuangan.
✅ Mengintegrasikan bank syariah dalam ekosistem koperasi syariah dan UMKM agar masyarakat kecil mendapatkan akses pembiayaan yang lebih adil.
✅ Menyediakan slot khusus dalam Danantara untuk investasi syariah, sehingga bank syariah bisa lebih berperan dalam proyek strategis nasional.
Dengan strategi yang tepat dan dukungan penuh dari pemerintah, bank syariah dapat menjadi pilar utama dalam mendorong pertumbuhan ekonomi nasional, menarik investasi global, serta mendukung hilirisasi industri, ketahanan pangan, dan transisi energi ke sumber daya terbarukan.