Prof. Dr. Euis Amalia Online

Indonesia Bukan Lagi Penonton: Membedah Visi Prof. Euis Amalia dalam Peta Ekonomi Syariah Dunia

JAKARTA – Di panggung ekonomi global, “Halal” bukan lagi sekadar label di balik kemasan produk; ia telah bertransformasi menjadi standar kualitas hidup kelas atas. Namun, ada paradoks yang menarik: mengapa negara-negara non-muslim justru lebih lincah memegang kendali?

Dalam diskusi mendalam di Next Class Podcast, Prof. Euis Amalia, pakar ekonomi syariah sekaligus Guru Besar UIN Jakarta, melontarkan refleksi penting: Indonesia harus berhenti menjadi sekadar pasar dan mulai bertindak sebagai produsen utama.

Belajar dari Tetangga: Halal Sebagai Standar Mutu

Thailand telah mengukuhkan diri sebagai “The Kitchen of the World”, sementara Jepang dan Korea terus mempercantik ekosistem wisata halal mereka. Mereka menangkap satu kunci: Halal is good, and halal is better. Bagi mereka, ini adalah bisnis besar.

Indonesia, dengan populasi muslim terbesar, memiliki modal alam dari Sabang sampai Merauke. Namun, Prof. Euis mengingatkan bahwa kekayaan alam saja tidak cukup tanpa Hilirisasi Halal. Ikan, hasil tani, hingga produk tambang kita harus keluar dari tanah air dalam bentuk olahan yang sudah terakreditasi syariah. Inilah nilai tambah yang akan mendongkrak PDB kita.

Memutus Rantai Ego Sektoral

Membangun industri halal membutuhkan sebuah Orkestrasi Nasional. Prof. Euis menyoroti pentingnya integrasi antara regulasi pemerintah, inovasi riset dari kampus, dan kelincahan dunia industri.

“Kampus tidak boleh hanya menghasilkan buku, tapi harus melahirkan paten yang relevan dengan industri,” tegasnya. Inovasi seperti farmasi halal dan teknologi pangan harus lahir dari laboratorium kampus untuk kemudian diproduksi massal. Di sini, teknologi digital seperti AI dan Blockchain bukan lagi pilihan, melainkan jembatan (wasilah) untuk menjamin transparansi global.

Perempuan: Motor Penggerak Ekonomi yang Tangguh

Satu aspek yang sering terlupakan dalam diskusi makro adalah peran perempuan. Prof. Euis menekankan bahwa pemberdayaan ekonomi perempuan adalah kunci resiliensi nasional. Perempuan, dengan kemampuan multitasking-nya, adalah pengelola risiko yang alami di tingkat keluarga.

“Memberdayakan perempuan berarti menyelamatkan masa depan bangsa,” tambahnya. Ketika para pelaku UMKM perempuan didukung oleh sistem keuangan syariah yang adil dan teknologi yang mudah, mereka menjadi benteng pertahanan ekonomi yang paling solid di masa krisis.

Integritas: Mahkota di Atas Kapabilitas

Menutup visinya, Prof. Euis menitipkan pesan bagi generasi muda. Menuju Indonesia Emas 2045, kecerdasan digital saja tidak cukup. Kita butuh manusia yang memiliki Kapabilitas (cakap) sekaligus Integritas (amanah).

Ekonomi syariah bukan hanya soal hitungan angka di atas kertas, tapi soal distribusi keadilan dan kebermanfaatan bagi sesama. Indonesia punya panggungnya, punya pemainnya, dan kini saatnya kita yang memimpin simfoni ekonomi syariah dunia.

Leave a Reply

0

Subtotal