Hari Raya Idul Fitri selalu menjadi momen istimewa yang penuh kebahagiaan, sekaligus mengundang refleksi mendalam. Prof. Dr. Euis Amalia, M.Ag, Guru Besar UIN Jakarta, berbagi cerita tentang Lebaran tahun ini, yang dipenuhi aktivitas bermakna dan penuh semangat kebersamaan.
Kisahnya dimulai dengan suasana khusyuk Shalat Id di Masjid Raya Pondok Indah, Jakarta Selatan. Setelah itu, perjalanan mudik ke Kuningan menjadi highlight, menyuguhkan pemandangan alam yang menenangkan dari Gunung Ciremai. Kota kecil yang asri ini menjadi tempat berkumpul kembali dengan sanak famili yang sudah lama tak bersua.
Selain merasakan hangatnya silaturahmi, Lebaran kali ini juga diisi dengan ziarah ke makam para leluhur, termasuk kakek, nenek, dan sesepuh yang telah wafat. Momen ini memberikan ketenangan dan menyegarkan kembali nilai-nilai yang diwariskan oleh generasi sebelumnya.
Prof. Euis juga berkesempatan menghadiri halal bihalal bersama Bupati Kuningan. Dalam dialog tersebut, semangat persaudaraan dan kolaborasi terasa nyata, mencerminkan nilai-nilai Islam yang universal. Tidak hanya itu, ia juga turut serta dalam sarasehan nasional yang membahas perjuangan Eyang Kiayi Hasan Maolani. Sosok beliau adalah tokoh yang berjasa dalam menyebarkan ajaran Islam di tanah Sunda, khususnya di daerah Kuningan dan Cirebon, sebelum akhirnya diasingkan ke Manado oleh kolonial Belanda hingga akhir hayatnya. Upaya pengusulan beliau sebagai Pahlawan Nasional kini mulai digagas.
“Sungguh, semangat juang para pahlawan memberikan inspirasi bagi kita untuk terus menanamkan nilai-nilai perjuangan dan kebaikan dalam kehidupan sehari-hari,” tutur Prof. Euis penuh harap.
Mengakhiri refleksinya, Prof. Euis menyampaikan ucapan: Selamat Hari Raya Idul Fitri 1446 H. Mohon maaf lahir dan batin. Mari kita jadikan momen Lebaran ini sebagai pengingat bahwa kebahagiaan sejati terlahir dari kebersamaan, semangat berbagi, dan keteladanan perjuangan para pendahulu.