Di tengah obsesi dunia pada pencapaian instan dan hustle culture yang melelahkan, kita sering lupa bertanya: Apakah sukses yang kita kejar benar-benar akan mendatangkan ketenangan?
Prof. Dr. Euis Amalia, M.Ag, Guru Besar UIN Jakarta, menawarkan perspektif yang mencerahkan dalam memaknai produktivitas. Beliau tidak hanya bicara tentang kerja keras, melainkan tentang sebuah arsitektur hidup yang seimbang antara ekspektasi manusia dan ketetapan Tuhan.
Mendasarkan pemikirannya pada Surat An-Nahl ayat 97, Prof. Euis membedah kode untuk meraih Hayatan Thoyyibah—sebuah kehidupan yang tidak hanya baik secara materi, tapi juga berkualitas secara substansi.
Egalitarianisme dalam Perjuangan
Satu hal yang menarik dari paparan Prof. Euis adalah penegasan bahwa Tuhan tidak membedakan gender dalam proses perjuangan. Baik laki-laki maupun perempuan memiliki akses yang sama terhadap kesuksesan selama mereka memiliki dua modal utama: Amal Saleh (Aksi Nyata) dan Iman (Resonansi Spiritual). Ini adalah pesan pemberdayaan yang inklusif; bahwa setiap individu punya hak yang sama untuk menjadi “somebody from nobody”.
Dua Pilar Ikhtiar: Takti dan Transendensi
Prof. Euis membagi strategi keberhasilan menjadi dua lini yang saling mengunci:
-
Eksekusi Taktis (Ikhtiar Lahir): Kesuksesan membutuhkan profesionalisme. Ingin lulus cepat? Ingin karier melesat? Maka asah kompetensi, tingkatkan skill, dan jaga integritas. Prof. Euis mengingatkan bahwa Allah menghargai proses. Tanpa fokus dan kerja keras, mimpi hanyalah angan-angan. Integritas di sini menjadi jangkar agar kesuksesan tidak diraih dengan menghalalkan segala cara.
-
Koneksi Transenden (Ikhtiar Batin): Inilah yang membedakan seorang pemimpi dengan seorang mukmin. Prof. Euis menekankan agar kita tidak menjadi hamba dari logika kita sendiri. “Jangan hanya mengandalkan otak Anda,” pesan beliau. Spiritualitas—melalui salat dan kedekatan dengan Tuhan—berfungsi sebagai sistem pendukung mental. Ia menjaga kita tetap membumi saat di puncak, dan membuat kita tetap tegak saat terjatuh.
Filosofi “Menggerakkan Pohon”
Melalui kisah Siti Hajar dan Maryam, Prof. Euis memberikan pelajaran tentang determinasi. Keajaiban (seperti air Zamzam atau buah kurma yang jatuh) tidak datang kepada mereka yang hanya berpangku tangan menunggu mukjizat.
-
Siti Hajar harus berlari tujuh kali antara Safa dan Marwah.
-
Maryam harus menggerakkan pohon kurma meski dalam kondisi fisik yang lemah.
Pesan moralnya tajam: Tugas kita adalah menggerakkan sebab, dan tugas Tuhan adalah mendatangkan akibat. Kita diminta untuk berikhtiar semaksimal mungkin, lalu membiarkan Tuhan menyelesaikan bagian yang tidak bisa dijangkau oleh tangan manusia.
Hasil Akhir: Ziadatul Khair
Pada akhirnya, Prof. Euis mendefinisikan sukses sejati sebagai Barakah (Keberkahan)—atau Ziadatul Khair (kebaikan yang bertambah). Sukses bukan lagi soal validasi eksternal, melainkan saat pencapaian kita membawa dampak positif bagi keluarga, lingkungan, dan alam semesta. Kehidupan yang baik adalah saat keberhasilan kita membuat kita semakin rendah hati dan semakin bermanfaat bagi sesama.
Mengubah Lelah Menjadi Lillah
Menjadi sukses adalah sebuah kewajiban bagi setiap individu yang ingin menebar manfaat. Namun, jangan biarkan ambisi menggerus kedamaian batin. Mari belajar dari pesan Prof. Euis: integrasikan profesionalisme dengan ketulusan doa. Sebab, saat dunia kita niatkan untuk akhirat, maka ketenangan akan mengikuti dengan sendirinya.
Sumber Tulisan: Artikel ini disarikan dari pemikiran Prof. Dr. Euis Amalia, M.Ag (Guru Besar UIN Jakarta) dalam video tausiyah bertajuk “Tausiyah Ramadhan HARMONY Program Studi Manajemen FEB UIN” yang tayang di akun instagramnya @euisamalia_2019
