Prof. Dr. Euis Amalia Online

Indonesia Menuju Ekonomi Syariah Kelas Dunia

JAKARTA – Menyongsong visi Indonesia Emas 2045, ekonomi syariah kini diposisikan sebagai pilar strategis dalam memperkuat struktur ekonomi nasional. Dengan volume ekonomi Islam global yang diproyeksikan menembus angka fantastis Rp100.000 triliun, Indonesia mempercepat transformasi dari pasar konsumen menjadi pemimpin pasar dunia.

Dalam diskusi khusus Top Economy Special Islamic Economic di Metro TV (17/03/2026), Prof. Dr. Euis Amalia, MA, hadir sebagai narasumber ahli bersama perwakilan otoritas moneter dan regulator. Berdasarkan laporan The State of Global Islamic Economy (SGIE) 2025, Indonesia saat ini kokoh di peringkat ketiga dunia, unggul pada sektor modest fashion (peringkat 1), pariwisata ramah muslim, serta farmasi dan kosmetik halal (peringkat 2).

Prof. Euis Amalia: Kualitas SDM Adalah Kunci Kepemimpinan

Sebagai Ketua Bidang Pengembangan SDM IAEI, Prof. Euis Amalia memberikan catatan kritis mengenai surplus kuantitas tenaga kerja syariah di Indonesia. Dengan lebih dari 950 program studi ekonomi syariah, Indonesia memiliki talent pool terbesar di dunia, namun tantangan utamanya terletak pada standardisasi global.

“Investasi manusia (human investment) tidak boleh berhenti pada gelar akademik. Kita membutuhkan SDM yang fasih ekonomi digital, memahami standar internasional, dan memiliki sertifikasi kompetensi yang diakui dunia. Link and match antara universitas dan industri halal adalah harga mati agar Indonesia tidak hanya menjadi pasar, tetapi menjadi penentu kebijakan ekonomi syariah dunia,” tegas Prof. Euis.

Beliau menambahkan bahwa reformasi struktur kurikulum dan penguatan Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) menjadi instrumen vital untuk mencetak talenta yang adaptif terhadap kebutuhan industri 2026 yang makin terdigitalisasi.

Inovasi Moneter dan Inklusi Keuangan

Sejalan dengan pemikiran Prof. Euis, Direktur Eksekutif DEX Bank Indonesia, Dr. Dadang Muliawan, memaparkan bahwa Indonesia telah memelopori integrasi kebijakan melalui Green Sukuk. Di sisi lain, Deputi Komisioner OJK, Deden Firmanansyah, mengakui adanya gap inklusi keuangan yang baru menyentuh 13%, meski literasi sudah mencapai 43%.

OJK dan Bank Indonesia terus mengorkestrasi strategi EPIC (Ekosistem Pesantren Inklusi Keuangan) dan program “Gerbang Santri” untuk memastikan akses keuangan syariah menjangkau hingga ke akar rumput, sebuah langkah yang juga didorong oleh Prof. Euis melalui penguatan literasi tersegmentasi.

Sinergi Hexahelix Menuju 2045

Diskusi ini menyimpulkan bahwa predikat nomor satu dunia hanya bisa dicapai melalui kolaborasi Hexahelix yang solid—melibatkan akademisi, bisnis, pemerintah, media, komunitas, dan agregator. Dengan kebijakan fiskal 2026 yang dirancang ekspansif, sinergi lintas sektoral diharapkan mampu mempercepat realisasi Indonesia sebagai pusat gravitasi ekonomi syariah global.

Prinsip “If you want to go far, go together” menjadi landasan bagi seluruh pemangku kepentingan. Kehadiran Prof. Euis Amalia dalam forum ini mempertegas peran akademisi dalam mengawal arah kebijakan ekonomi syariah yang inklusif, produktif, dan berdaya saing kelas dunia.

Leave a Reply

0

Subtotal