JAKARTA – Di tengah fase Maghfirah (ampunan) Ramadan 1447 H, Masjid Agung Sunda Kelapa menghadirkan perspektif mendalam mengenai potret ekonomi bangsa. Prof. Dr. Hj. Euis Amalia, M.Ag., pakar ekonomi syariah, menyampaikan ceramah bertajuk
“Membangun Kesejahteraan Umat dengan Keadilan Distributif”
pada malam ke-11 Ramadan (28/02/2026).
Paradoks Ketimpangan: Antara Pencakar Langit dan Piring Kosong
Prof. Euis membuka ceramahnya dengan fakta tajam mengenai angka Koefisien Gini Indonesia yang berada di level 0,38. Angka ini merupakan alarm atas tingginya ketimpangan antara si kaya dan si miskin.
“Ini adalah sebuah paradoks. Di satu sisi, pusat perbelanjaan penuh sesak, namun di sisi lain, masih ada ibu yang menangis karena harus memilih antara membeli beras atau membayar sekolah anak,” ujar Prof. Euis.
Beliau juga menyentil fenomena food waste, di mana Indonesia menjadi negara pembuang sampah makanan terbesar ketiga di dunia, sementara banyak saudara kita yang masih mengais rezeki di tempat pembuangan.
Belajar dari Kepemimpinan Umar bin Khattab
Mengambil hikmah sejarah, beliau menceritakan kembali kisah Khalifah Umar bin Khattab yang memanggul sendiri karung gandum untuk seorang ibu yang memasak batu demi menenangkan anaknya yang kelaparan.
“Umar bertanya pada dirinya sendiri: Apakah di akhirat nanti kalian mau menanggung dosaku? Ini adalah refleksi bagi para pemimpin dan kita yang memiliki kelebihan harta untuk memikul tanggung jawab sosial secara nyata,” tambahnya.
Empat Strategi Transformasi Ekonomi Umat
Untuk memutus rantai ketimpangan, Prof. Euis menawarkan empat instrumen strategis ekonomi Islam:
-
Revolusi Zakat: Bukan sekadar menggugurkan kewajiban, zakat harus dikelola secara transparan dan akuntabel (good governance) untuk mengubah mustahik (penerima) menjadi muzaki (pemberi) melalui pemberdayaan produktif.
-
Wakaf sebagai Fondasi Peradaban: Beliau mendorong optimalisasi wakaf uang dan benda bergerak untuk membangun infrastruktur sosial seperti rumah sakit dan universitas, berkaca pada keberhasilan Universitas Al-Azhar.
-
Literasi Keuangan Syariah: Mengajak umat meninggalkan riba yang menjerat petani dan pedagang kecil, serta beralih ke akad bagi hasil (musyarakah) yang lebih adil dan manusiawi.
-
Gaya Hidup Halalan Toyyiban: Mendukung produk lokal dan UMKM halal sebagai bentuk jihad ekonomi, sembari memastikan proses produksi yang ramah lingkungan.
Takwa yang Berdimensi Sosial
Mengakhiri ceramahnya, Prof. Euis menekankan bahwa puasa adalah “Kawah Candradimuka” untuk melatih sensitivitas sosial. Takwa sejati bukan hanya kedekatan ritual kepada Allah, tetapi sejauh mana keberadaan kita memberikan dampak kesejahteraan bagi sesama.
#EkonomiSyariah #Ramadan1447H #MasjidAgungSundaKelapa #ZakatProduktif #KeadilanEkonomi