Prof. Dr. Euis Amalia Online

Keberanian untuk Melakukan Hal-Hal Besar

Refleksi Hari Pahlawan 10 November 2025

Bangsa yang besar tidak lahir dari kenyamanan, melainkan dari keberanian. Keberanian untuk berpikir berbeda, untuk menempuh jalan yang belum dilalui, dan untuk berjuang melampaui kepentingan diri. Dalam semangat itulah, setiap tanggal 10 November, kita memperingati Hari Pahlawan—bukan sekadar mengenang masa lalu, tetapi menyalakan kembali api keberanian yang diwariskan para pejuang.

Presiden Soekarno pernah berpesan, “Keberanian adalah kuncinya. Kita harus memiliki keyakinan dan keberanian untuk melakukan hal-hal besar.” Pesan ini tidak hanya relevan bagi generasi masa kemerdekaan, tetapi juga menjadi kompas moral bagi kita di era inovasi dan transformasi global saat ini.

Prof. Dr. Euis Amalia, M.Ag., Direktur Pusat Pengembangan Ekonomi dan Keuangan Syariah (P2EKS) UIN Syarif Hidayatullah Banten, mengucapkan Selamat Hari Pahlawan 10 November 2025 dengan kutipan inspiratif Bung Karno: “Keberanian adalah kuncinya. Kita harus memiliki keyakinan dan keberanian untuk melakukan hal-hal besar.”

Pahlawan di Tengah Perubahan Zaman

Makna kepahlawanan kini menemukan bentuk baru. Ia tidak lagi terbatas pada medan perang, tetapi hidup dalam perjuangan membangun peradaban: menegakkan keadilan, memberdayakan ekonomi, melestarikan nilai moral, dan menebarkan ilmu yang bermanfaat.

Di dunia akademik dan riset, semangat pahlawan hadir dalam keberanian untuk mencari kebenaran ilmiah, menembus batas disiplin ilmu, serta menjadikan pengetahuan sebagai kekuatan perubahan sosial. Di sinilah peran universitas, termasuk UIN Syarif Hidayatullah Banten, menemukan relevansinya: menjadi ladang lahirnya generasi beriman, berilmu, dan berani berkontribusi.

Melalui Pusat Pengembangan Ekonomi dan Keuangan Syariah (P2EKS), kami meyakini bahwa membangun ekonomi berbasis nilai iman, keadilan, dan keberlanjutan merupakan bentuk perjuangan modern yang tak kalah heroik. Ia adalah jalan panjang menuju kemerdekaan sejati—kemerdekaan dari kemiskinan, ketidakadilan, dan ketergantungan.

Perempuan dan Keberanian Moral

Di setiap babak sejarah bangsa, perempuan selalu hadir sebagai penopang moral perjuangan. Hari ini, perempuan Indonesia melanjutkan estafet itu dengan keberanian intelektual dan spiritual. Berani memimpin dengan empati, berani menegakkan nilai, dan berani berkontribusi dalam ruang-ruang strategis pembangunan bangsa.

Kepemimpinan perempuan bukanlah sekadar representasi, tetapi manifestasi dari keseimbangan antara akal dan nurani, antara ketegasan dan kasih sayang. Di sinilah keberanian sejati menemukan maknanya.

Menjadi Pahlawan di Lingkungan Kita Sendiri

Tidak setiap orang harus memimpin gerakan besar untuk disebut pahlawan. Menjadi pendidik yang tulus, peneliti yang jujur, pegawai yang amanah, atau mahasiswa yang tekun mencari ilmu—semuanya adalah wujud kepahlawanan di lingkungannya masing-masing.

Keberanian sejati dimulai dari kesediaan melakukan hal benar, meski sederhana; dari komitmen menjaga integritas di tengah godaan pragmatisme; dan dari keyakinan bahwa perubahan besar selalu bermula dari niat yang tulus.

Penutup

Hari Pahlawan 2025 mengingatkan kita bahwa keberanian adalah fondasi kemajuan. Mari terus menyalakan semangat juang, bukan dengan senjata, tetapi dengan ilmu, etos kerja, dan kasih kepada sesama.

Karena bangsa ini akan terus tumbuh besar — selama masih ada orang-orang yang berani bermimpi, berani berbuat, dan berani menjaga nurani.


✍️ Prof. Dr. Euis Amalia, M.Ag.
Direktur Pusat Pengembangan Ekonomi dan Keuangan Syariah (P2EKS)
UIN Syarif Hidayatullah Banten

Leave a Reply

0

Subtotal