Prof. Dr. Euis Amalia Online

Perempuan dan Investasi Keuangan Islam: Pilar Pertumbuhan Ekonomi Syariah

Di tengah pertumbuhan pesat ekonomi syariah di Indonesia, peran perempuan kembali ditegaskan sebagai kunci penggerak kemajuan. Dalam acara Economic Challenges Spesial Ramadan bertajuk Perempuan dan Investasi Keuangan Islam, empat tokoh perempuan terkemuka hadir untuk menggali potensi, tantangan, dan strategi memberdayakan perempuan Indonesia melalui literasi dan investasi keuangan syariah.

Prof. Euis Amalia, Guru Besar Ekonomi Islam UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan Ketua Bidang Pendidikan IAEI, menyatakan bahwa memberdayakan perempuan sama artinya dengan memberdayakan keluarga dan bangsa. Menurutnya, perempuan Indonesia sudah menunjukkan literasi keuangan syariah yang cukup baik, bahkan lebih tinggi dibanding laki-laki. Namun, tingkat inklusi—yakni penggunaan nyata layanan keuangan syariah—masih rendah, sekitar 12,88%.

“Perempuan adalah manajer keuangan keluarga. Mereka juga pelaku UMKM yang dominan, pengelola zakat dan wakaf, serta pendidik utama dalam rumah tangga. Maka meningkatkan akses dan pemahaman mereka terhadap produk-produk keuangan syariah menjadi hal yang sangat strategis,” ujar Prof. Euis.

Senada, Evita Mantovani dari Kemenko Perekonomian menyoroti pentingnya sinergi antara peningkatan literasi dan penyediaan produk keuangan yang ramah gender. Menurutnya, perempuan memiliki pengaruh besar terhadap kesejahteraan keluarga dan pertumbuhan ekonomi nasional. Ia juga menggarisbawahi perlunya dukungan dari suami dalam pengambilan keputusan keuangan syariah di tingkat rumah tangga.

“Produk syariah seperti tabungan emas, deposito syariah, dan asuransi mikro kini mulai diminati perempuan, khususnya generasi muda. Tantangannya tinggal pada akses dan kemasan informasi yang lebih inklusif dan mudah dipahami,” jelas Evita.

Dekan FEB Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII), Prof. Dian Masyita, menambahkan bahwa pendidikan formal dan nonformal harus berjalan beriringan untuk membangun kesadaran dan keterampilan perempuan. Ia menekankan perlunya kurikulum ekonomi syariah sejak usia dini, untuk mencegah fenomena seperti pinjol ilegal dan judi daring yang banyak menjerat rumah tangga.

“Ekonomi syariah bukan hanya soal halal-haram, tapi juga mencakup perlindungan keluarga dan keberkahan hidup. Ke depan, kampus harus lebih agresif mendekatkan konsep ini ke komunitas, khususnya ibu rumah tangga,” tuturnya.

Madam Ani, pendiri Sakinah Finance dan Guru Besar Akuntansi Syariah Universitas Tazkia, mengajak perempuan untuk tidak berhenti pada pengetahuan semata. Ia mengusulkan pendekatan praktis berupa “5M” dalam keuangan syariah: mengelola pendapatan, kebutuhan, surplus/defisit, impian, dan risiko. Ia juga memperkenalkan konsep CORE (Control, Ownership, Reach, Endurance) untuk memperkuat kesiapan perempuan dalam mengambil keputusan keuangan.

“Digitalisasi menjadi alat penting. Semua layanan keuangan ada di genggaman. Sekarang tinggal keberanian untuk bertindak,” kata Madam Ani.

Sebagai penutup, para narasumber sepakat bahwa keberhasilan ekonomi syariah di masa depan tak bisa lepas dari kontribusi nyata perempuan. Diperlukan kolaborasi pentahelix—pemerintah, akademisi, dunia usaha, komunitas, dan media—untuk membangun ekosistem keuangan syariah yang inklusif, amanah, dan responsif terhadap kebutuhan perempuan.

“Ekonomi syariah bukan lagi sekadar alternatif, tapi harus menjadi arus utama ekonomi nasional,” pungkas Prof. Euis.

Leave a Reply

0

Subtotal