Selama puluhan tahun, Indonesia dipandang dunia hanya sebagai pangsa pasar konsumen muslim terbesar. Namun, paradigma ini harus segera kita geser. Mengacu pada gagasan Profesor Euis Amalia, Guru Besar UIN Jakarta, sudah saatnya Indonesia melakukan transformasi fundamental: dari sekadar “pembeli” menjadi “pemain utama” yang mengorkestrasi rantai pasok halal global.
Reorientasi: Halal sebagai Gaya Hidup Modern
Kita harus memahami bahwa ekonomi syariah bukan sekadar sistem bebas bunga (riba), melainkan ekosistem yang holistik dan komprehensif. Hari ini, Halal Lifestyle telah menjadi wacana global. Di negara-negara maju, label halal tidak lagi dipandang dari perspektif agama semata, melainkan sebagai indikator kualitas: Halal is Good, Halal is Better.
Halal menjamin kebersihan, kesehatan, dan etika proses dari hulu hingga hilir. Jika Thailand mampu memposisikan diri sebagai “The Kitchen of Halal in the World” meski dengan minoritas muslim, maka Indonesia yang kaya akan sumber daya alam dan bonus demografi seharusnya berada jauh di depan.
Strategi Hilirisasi: Kunci Kedaulatan Ekonomi
Salah satu tantangan terbesar kita adalah “ketergantungan pada bahan mentah.” Untuk menjadi pusat industri halal dunia, Indonesia harus fokus pada hilirisasi. Kita tidak boleh lagi hanya mengekspor nikel mentah, ikan mentah, atau hasil tani tanpa pengolahan.
Hilirisasi industri pangan, fashion, kosmetik, hingga farmasi harus diintegrasikan dengan sertifikasi halal. Mengolah bahan mentah menjadi produk bernilai tambah (value-added products) adalah satu-satunya cara untuk meningkatkan Produk Domestik Bruto (PDB) dan menciptakan lapangan kerja yang luas.
Membangun Ekosistem dengan Pendekatan Pentahelix
Mewujudkan ambisi ini membutuhkan lebih dari sekadar jargon. Kita memerlukan Leadership yang kuat untuk menghancurkan ego sektoral antar lembaga. Kunci keberhasilannya terletak pada kolaborasi Pentahelix:
Pemerintah: Harmonisasi regulasi dan kemauan politik (political will).
Kampus/Akademisi: Riset dan inovasi yang link and match dengan kebutuhan industri.
Industri/Pengusaha: Menjadi mesin penggerak produksi dan distribusi.
Masyarakat & Media: Memperkuat literasi dan adopsi gaya hidup halal.
Di era disrupsi, teknologi seperti Artificial Intelligence (AI) dan Blockchain harus diadopsi untuk memastikan transparansi transaksi dan mempercepat proses sertifikasi halal secara efisien.
Perempuan: Tiang Utama Ekonomi Bangsa
Pemberdayaan ekonomi syariah tidak akan lengkap tanpa melibatkan peran perempuan. Data menunjukkan bahwa memberdayakan satu perempuan sama dengan memberdayakan satu keluarga, dan memberdayakan keluarga adalah langkah nyata membangun bangsa.
Perempuan seringkali menjadi pelaku utama UKM yang fleksibel dan multitasking. Dengan memberikan akses pembiayaan mikro syariah kepada kaum perempuan, kita sedang membangun pondasi SDM masa depan yang lebih bergizi dan terdidik.
Penutup: Integritas dan Kapabilitas
Sebagai penutup, saya mengajak seluruh elemen bangsa untuk memegang teguh prinsip Qowiyun Amin.
Qowiyun (Kapabilitas): Teruslah mengasah kompetensi dan jangan pernah berhenti belajar.
Amin (Integritas): Jaga amanah dan moralitas dalam setiap transaksi bisnis.
Indonesia memiliki segala prasyarat untuk memimpin ekonomi syariah dunia. Yang kita butuhkan sekarang bukanlah rencana yang sempurna, melainkan langkah nyata yang terintegrasi dan berkelanjutan. Mari jadikan industri halal sebagai kekuatan ekonomi baru bagi Indonesia Maju 2045. (redaksi)