Oleh: Redaksi
Kita kerap mendengar narasi bahwa kunci keberhasilan dalam karier profesional adalah perencanaan yang matang, networking yang luas, dan tentu saja, ambisi yang tinggi. Namun, ketika kita berhadapan dengan tokoh-tokoh yang telah mencapai puncak di bidangnya—seperti Prof. Dr. Euis Amalia, M.Ag., Guru Besar Ekonomi Islam UIN Syarif Hidayatullah Jakarta—kita menemukan sebuah filosofi yang jauh lebih mendasar dan agung: niat yang lurus dan konsistensi yang diikat oleh orientasi akhirat.
Bagi Prof. Euis, perjalanan dari seorang penulis skripsi tentang penyelesaian sengketa perbankan syariah pada tahun 1995 hingga menjadi Guru Besar, Dewan Pengawas Syariah (DPS) di berbagai lembaga keuangan, dan Ketua Program Studi Doktor Perbankan Syariah, bukanlah hasil dari perburuan jabatan. Itu adalah hasil ikutan (reward) dari sebuah komitmen mendalam.
Menarik Rezeki dengan Niat, Bukan Ambisi
Dalam banyak diskusi, termasuk yang terekam dalam perbincangan inspiratif bersama Dr. Hendra Kholid, Prof. Euis menegaskan kembali prinsip fundamental dalam Islam: hasil tidak akan mengkhianati proses.
Beliau tidak pernah membayangkan menjadi seorang DPS, apalagi seorang Profesor. Lantas, apa kuncinya?
“Kita harus memilih hidup ini. Itu adalah pilihan dan kita harus konsisten dan fokus dengan pilihan kita itu. Insyaallah kita jadi itu. Kalau kita sudah memilih, jangan kemana-mana lagi.”
Pernyataan ini adalah kunci istiqomah (konsistensi) dalam berkarya. Pilihan untuk menekuni Ekonomi Syariah, baginya, adalah pilihan yang didasarkan pada kesadaran bahwa persoalan ekonomi umat adalah persoalan yang “riil, tidak mengawang-awang, dan merupakan salah umat.” Inilah niat utama: melakukan yang terbaik bagi keilmuan dan kemanfaatan masyarakat.
Ketika niat sudah lurus untuk membantu, mengamankan keilmuan, dan memberikan manfaat seluas-luasnya, maka bonus keduniaan—seperti jabatan Guru Besar, honorarium DPS, hingga pengakuan publik—datang sendiri, bukan sebagai tujuan utama, melainkan sebagai anugerah dan penyerta.
Ini menggemakan kembali firman Allah dan konsep yang selalu diajarkan dalam setiap literatur Islam: Jika Anda mengejar akhirat, maka dunia akan dikasih.
Menolak Mentalitas “Generasi Menara Gading”
Filosofi niat yang lurus ini kemudian diterjemahkan dalam aksi nyata yang sangat penting. Prof. Euis Amalia adalah akademisi yang menolak mentah-mentah mentalitas “Generasi Menara Gading,” yakni ilmu yang hanya indah di dalam kampus (tesis, jurnal, buku) tetapi mandul di tengah masyarakat.
Oleh karena itu, di samping tugas Tridharma, beliau aktif mendirikan dan mengurus BMT (Baitul Maal wat Tamwil) di lingkungan UIN. Pendirian BMT ini adalah jawaban konkret bagi pertanyaan: Bagaimana pemikiran Ekonomi Islam dapat benar-benar bermanfaat bagi dosen, karyawan, dan UMKM di sekitar kampus?
Keterlibatan sebagai DPS di berbagai institusi, mulai dari perbankan syariah hingga fintech mikro, juga menunjukkan bahwa seorang akademisi harus terlibat langsung. Tujuannya adalah untuk mengikuti arus, menguji teori, melakukan ijtihad, dan mengadaptasi konsep di lapangan. Tanpa keterlibatan riil, ilmu hanya akan menjadi tumpukan kertas tanpa berkah.
Kompetensi sebagai Fondasi Amal
Kepada generasi milenial yang kini memiliki kanal media sosial yang tak terbatas, Prof. Euis Amalia berpesan bahwa Anda boleh menjadi apapun, termasuk Youtuber atau Content Creator. Namun, jangan pernah tinggalkan prinsip utama: meningkatkan kompetensi diri dan menguasai substansi.
Teknologi, media, dan platform hanyalah tools. Alat tidak akan bernilai tanpa content yang kuat. Jika niat kita adalah membantu umat, maka kompetensi yang tinggi adalah kendaraan terbaik untuk menyampaikan manfaat. Setelah kompeten, barulah fokus, konsisten, dan terapkan manajemen waktu yang baik, karena semua orang memiliki waktu 24 jam yang sama.
Pada akhirnya, tantangan terbesar Ekonomi Syariah hari ini, sebagaimana diungkapkan oleh Prof. Euis, adalah rendahnya literasi dan stigma “sama saja” di mata masyarakat. Stigma ini hanya bisa dipatahkan oleh agen-agen perubahan—yaitu para praktisi, akademisi, dan generasi muda yang ilmunya membumi, amalnya konsisten, dan niatnya lurus hanya karena Allah.
Mengejar keberkahan ilmu dan kemanfaatan bagi sesama adalah target sejati. Jika target itu tercapai, niscaya segala bentuk reward keduniaan—mulai dari kekayaan, jabatan, hingga ketenaran—akan datang dengan sendirinya. Ia datang sebagai bonus terbaik, pelengkap kesuksesan yang berorientasi abadi.