
Guru Besar UIN Jakarta
JAKARTA,– Di tengah pesatnya perkembangan industri halal global saat ini, pemikiran strategis para pakar menjadi kompas penting bagi arah ekonomi syariah nasional. Prof. Dr. Euis Amalia, M.Ag, Guru Besar Ekonomi Syariah UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, secara konsisten terus menekankan bahwa kunci kekuatan ekonomi umat terletak pada dua pilar: Diplomasi Global dan Literasi Halal di tingkat akar rumput.
Jejak Diplomasi: Menjadikan Qatar sebagai Gerbang Strategis
Dalam sebuah catatan perjalanan diplomatiknya (seperti yang terekam dalam diskusi bersama Marissa Haque), Prof. Euis telah lama membidik Qatar sebagai mitra strategis bagi Indonesia. Bukan hanya karena kedekatan budaya dan agama, tetapi posisi Qatar sebagai international hub yang modern dan terbuka.
“Qatar adalah wajah Islam yang menampilkan profesionalisme internasional. Dengan memanfaatkan Qatar sebagai hub, produk UKM kita memiliki akses yang lebih efisien untuk masuk ke pasar Uni Emirat Arab dan Arab Saudi,” ungkapnya. Visi ini kini semakin relevan seiring dengan meningkatnya volume perdagangan produk halal Indonesia ke kawasan Timur Tengah.
Tantangan Literasi: Lebih dari Sekadar Sertifikat
Salah satu poin krusial yang selalu ditekankan Prof. Euis adalah pergeseran paradigma mengenai sertifikasi halal. Baginya, halal bukan sekadar kewajiban administratif atau label di kemasan, melainkan sebuah standar kualitas universal yang mencakup aspek thayyib (baik dan sehat).
“Literasi tetap menjadi tantangan terbesar. Kita mengedukasi UKM bahwa halal berarti memastikan bahan baku, proses produksi, hingga pengemasan bebas dari zat berbahaya seperti boraks atau formalin. Halal adalah standar mutu dunia,” tegas Prof. Euis.
Membangun Poros Halal Internasional
Sejak beberapa tahun terakhir, Prof. Euis telah merancang langkah besar melalui inisiatif Poros Halal Indonesia-Brunei-Arab Saudi. Gagasan ini bertujuan menciptakan standarisasi yang saling diakui (mutual recognition agreement), sehingga produk UKM lokal tidak lagi terhambat kendala birokrasi saat diekspor.
Aksi nyata ini telah dibuktikan melalui pendampingan ratusan UKM di Pusat Halal UIN Jakarta. Melalui kolaborasi dengan lembaga seperti Baznas dan perbankan syariah, beliau memastikan bahwa akademisi tidak hanya bicara di ruang kelas, tetapi hadir memberikan solusi konkret di lapangan.
Menatap Masa Depan Ekonomi Syariah
Di tahun 2026 ini, apa yang dipelopori oleh Prof. Euis Amalia membuktikan bahwa konsistensi dalam literasi dan diplomasi adalah modal utama Indonesia untuk menjadi pusat industri halal dunia. Melalui portal euisamalia.com, semangat untuk terus mengedukasi dan memberdayakan UKM ini terus dirawat sebagai bagian dari pengabdian intelektual bagi bangsa.
*sumber tulisan diambil dari Kanal youtubenya Marissa Haque